
Photo by freestocks.org on Pexels.com
Pasti kita pernah dengar istilah bakteri sehat, bahkan kita sering lihat di media sosial iklan-iklan makanan atau minuman yang katanya membantu meningkatkan jumlah bakteri baik dalam tubuh. Bakteri dalam tubuh kita ini biasa disebut dengan istilah mikrobiom. Mikrobiom ini memiliki peranan penting terkait dengan kekebalan tubuh, jantung pembuluh darah dan juga kesehatan tubuh kita secara keseluruhan. Karena itu kita sangat menginginkan tubuh kita ini hanya dihuni oleh bakteri-bakteri yang baik untuk tubuh kita.
Konsumsi makanan yang tinggi serat (sayur mayur dan buah-buahan) ternyata memelihara bakteri sehat dalam usus besar yang memungkinkan bakteri tersebut menghasilkan asam lemak rantai pendek yang selanjutnya asam lemak rantai pendek tersebut diserap/dikonsumsi oleh sel usus tubuh (enterosite) yang dapat menyebabkan berkurangnya pembentukan (biosintesis) kolesterol sehingga kadar kolesterol dalam serum darah akan turun.
Kalau ada bakteri baik berarti ada juga bakteri yang jahat bagi tubuh kita. Tahukah anda, kalau bakteri jahat tidak selalu menimbulkan tanda dan gejala yang dapat segera kita sadari; contohnya seperti mual, muntah, dan diare, ternyata bakteri jahat juga dapat menyebabkan ketidak seimbangan proses di dalam tubuh kita yang tidak langsung memperlihatkan tanda dan gejala yang dapat kita sadari segera contohnya adalah proses peradangan (inflamasi) diseluruh tubuh kita dan pengeplakan pada seluruh saluran pembuluh darah.
Bila proses peradangan ini berlangsung lama dan sumbatan pembuluh darah cukup signifikan barulah tanda dan gejala muncul tergantung dari lokasi pembuluh darah yang tersumbat misalnya sakit kepala bila tekanan darah kita meningkat akibat diameter pembuluh darah kita secara umum lebih kecil dikarenakan sumbatan di hampir sebagian besar pembuluh darah, nyeri dada bila sumbatan terdapat di jantung, stroke bila sumbatan di pembuluh darah otak, impotensi bila sumbatan pada pembuluh darah genitalia, dll.
Bagaimana hal tersebut bisa tejadi? sederhananya seperti ini, jenis bakteri dan komposisi bakteri yang ada didalam tubuh kita khususnya di usus tergantung dari pasukan makanan yang kita konsumsi. Ada bakteri yang mengolah makanan berbasis hewani dan ada bakteri yang mengolah makanan berbasis nabati.
Individu yang mengkonsumsi makanan hewani dan juga nabati maka di dalam tubuhnya akan terdapat dua tipe bakteri tersebut serta banyaknya bakteri juga tergantung dari proporsi makanan mana yang lebih banyak dikonsumsi.
Individu yang vegan tentunya akan memiliki sangat sedikit atau bahkan tidak memiliki bakteri yang mengolah makanan hewani begitu juga sebaliknya. Sayangnya bakteri yang mengolah makanan berbasis hewani ternyata memproduksi zat yang tidak menguntungkan untuk tubuh kita saat bakteri tersebut mendapatkan pasukan makanan hewani.
Berdasarkan studi, ternyata konsumsi makanan yang banyak mengandung L-carnitine dan cholin akan menyebabkan bakteri usus tersebut memproduksi trimethylamine (TMA), yang selanjutnya akan dimetabolisme tubuh kita di hati menjadi zat trimethylamine-N-oxide (TMAO) yang dapat meningkatkan proses peradangan dan pengeplakan di saluran pembuluh darah. L-carnitine dan cholin banyak terdapat pada daging merah, ikan, unggas, telur dan susu.

Studi tersebut juga menunjukkan kadar TMAO yang menurun pada saat individu diberikan antibiotik (yang dapat membunuh bakteri-bakteri baik yang mengolah makanan hewani maupun nabati). Selain itu kadar TMAO juga rendah pada individu yang vegan atau vegetarian.
Memang masih diperlukan banyak studi dan juga studi yang lebih lanjut mengenai hal ini, karena juga terdapat studi-studi lain yang hasilnya bertolak belakang. Namun berdasarkan pengalaman saya sebagai dokter, pasien-pasien yang saya anjurkan untuk menjalankan pola makan Low Fat Whole Food Plant Based Diet, dan patuh menjalankan pola makan tersebut terbukti dapat menurunkan dosis obat dan bahkan melepas obat hipertensi, diabetes, anti kolesterol dan bahkan ada pasien mengalami penyumbatan pembuluh darah (namun bukan merupakan kasus kegawatdaruratan) yang tidak jadi dipasang stent/ring di pembuluh darah jantungnya dikarenakan pembuluh darah yang tersumbat sebelumnya menjadi terbuka setelah merubah pola makannya.
Jadi kalau boleh disimpulkan, bila ingin terhindar dari penyakit kronis khususnya yang terkait jantung dan pembuluh darah maka sebaiknya kita menghindari makanan-makanan hewani dan produk hewani.
Apakah ada alternatif lain bagi mereka yang tidak ingin meninggalkan makanan hewani dan produk hewani namun tidak mendapat efek negatif tersebut? Jawabannya ada, yaitu dengan mengkonsumsi antibiotik sebelum mengkonsumsi hewani yang tentunya antibiotik tersebut tidak hanya membunuh bakteri jahat tapi juga bakteri yang baik untuk tubuh kita.
Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3650111/






































