Asupan Makanan Tinggi Hewani Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung Pembuluh Darah


Pasti kita pernah dengar istilah bakteri sehat, bahkan kita sering lihat di media sosial iklan-iklan makanan atau minuman yang katanya membantu meningkatkan jumlah bakteri baik dalam tubuh. Bakteri dalam tubuh kita ini biasa disebut dengan istilah mikrobiom. Mikrobiom ini memiliki peranan penting terkait dengan kekebalan tubuh, jantung pembuluh darah dan juga kesehatan tubuh kita secara keseluruhan. Karena itu kita sangat menginginkan tubuh kita ini hanya dihuni oleh bakteri-bakteri yang baik untuk tubuh kita.

Konsumsi makanan yang tinggi serat (sayur mayur dan buah-buahan) ternyata memelihara bakteri sehat dalam usus besar yang memungkinkan bakteri tersebut menghasilkan asam lemak rantai pendek yang selanjutnya asam lemak rantai pendek tersebut diserap/dikonsumsi oleh sel usus tubuh (enterosite) yang dapat menyebabkan berkurangnya pembentukan (biosintesis) kolesterol sehingga kadar kolesterol dalam serum darah akan turun.

Kalau ada bakteri baik berarti ada juga bakteri yang jahat bagi tubuh kita. Tahukah anda, kalau bakteri jahat tidak selalu menimbulkan tanda dan gejala yang dapat segera kita sadari; contohnya seperti mual, muntah, dan diare, ternyata bakteri jahat juga dapat menyebabkan ketidak seimbangan proses di dalam tubuh kita yang tidak langsung memperlihatkan tanda dan gejala yang dapat kita sadari segera contohnya adalah proses peradangan (inflamasi) diseluruh tubuh kita dan pengeplakan pada seluruh saluran pembuluh darah.

Bila proses peradangan ini berlangsung lama dan sumbatan pembuluh darah cukup signifikan barulah tanda dan gejala muncul tergantung dari lokasi pembuluh darah yang tersumbat misalnya sakit kepala bila tekanan darah kita meningkat akibat diameter pembuluh darah kita secara umum lebih kecil dikarenakan sumbatan di hampir sebagian besar pembuluh darah, nyeri dada bila sumbatan terdapat di jantung, stroke bila sumbatan di pembuluh darah otak, impotensi bila sumbatan pada pembuluh darah genitalia, dll.

Bagaimana hal tersebut bisa tejadi? sederhananya seperti ini, jenis bakteri dan komposisi bakteri yang ada didalam tubuh kita khususnya di usus tergantung dari pasukan makanan yang kita konsumsi. Ada bakteri yang mengolah makanan berbasis hewani dan ada bakteri yang mengolah makanan berbasis nabati.

Individu yang mengkonsumsi makanan hewani dan juga nabati maka di dalam tubuhnya akan terdapat dua tipe bakteri tersebut serta banyaknya bakteri juga tergantung dari proporsi makanan mana yang lebih banyak dikonsumsi.

Individu yang vegan tentunya akan memiliki sangat sedikit atau bahkan tidak memiliki bakteri yang mengolah makanan hewani begitu juga sebaliknya. Sayangnya bakteri yang mengolah makanan berbasis hewani ternyata memproduksi zat yang tidak menguntungkan untuk tubuh kita saat bakteri tersebut mendapatkan pasukan makanan hewani.

Berdasarkan studi, ternyata konsumsi makanan yang banyak mengandung L-carnitine dan cholin akan menyebabkan bakteri usus tersebut memproduksi trimethylamine (TMA), yang selanjutnya akan dimetabolisme tubuh kita di hati menjadi zat trimethylamine-N-oxide (TMAO) yang dapat meningkatkan proses peradangan dan pengeplakan di saluran pembuluh darah. L-carnitine dan cholin banyak terdapat pada daging merah, ikan, unggas, telur dan susu.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Studi tersebut juga menunjukkan kadar TMAO yang menurun pada saat individu diberikan antibiotik (yang dapat membunuh bakteri-bakteri baik yang mengolah makanan hewani maupun nabati). Selain itu kadar TMAO juga rendah pada individu yang vegan atau vegetarian.

Memang masih diperlukan banyak studi dan juga studi yang lebih lanjut mengenai hal ini, karena juga terdapat studi-studi lain yang hasilnya bertolak belakang. Namun berdasarkan pengalaman saya sebagai dokter, pasien-pasien yang saya anjurkan untuk menjalankan pola makan Low Fat Whole Food Plant Based Diet, dan patuh menjalankan pola makan tersebut terbukti dapat menurunkan dosis obat dan bahkan melepas obat hipertensi, diabetes, anti kolesterol dan bahkan ada pasien mengalami penyumbatan pembuluh darah (namun bukan merupakan kasus kegawatdaruratan) yang tidak jadi dipasang stent/ring di pembuluh darah jantungnya dikarenakan pembuluh darah yang tersumbat sebelumnya menjadi terbuka setelah merubah pola makannya.

Jadi kalau boleh disimpulkan, bila ingin terhindar dari penyakit kronis khususnya yang terkait jantung dan pembuluh darah maka sebaiknya kita menghindari makanan-makanan hewani dan produk hewani.

Apakah ada alternatif lain bagi mereka yang tidak ingin meninggalkan makanan hewani dan produk hewani namun tidak mendapat efek negatif tersebut? Jawabannya ada, yaitu dengan mengkonsumsi antibiotik sebelum mengkonsumsi hewani yang tentunya antibiotik tersebut tidak hanya membunuh bakteri jahat tapi juga bakteri yang baik untuk tubuh kita.

Sumber: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3650111/


Gaya Hidup “Whole Food Plant based”


Tulisan saya kali ini akan lebih menjelaskan mengenai apa itu gaya hidup whole food plant based, mengenai alasan kenapa whole food plant based bagus untuk kesehatan kita akan saya bahas pada kesempatan lain.

Photo by Trang Doan on Pexels.com

Whole food dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai makanan utuh. Makanan utuh yang dimaksud disini adalah makanan yang menyerupai bentuk aslinya, minimal proses dan sebisa mungkin bebas dari zat aditif atau zat buatan lainnya yang tidak alami. Sementara plant based adalah makanan yang berbasis nabati.

Jadi gaya hidup whole food plant based ini mengajak kita untuk kembali mengkonsumsi makanan asli yang minimal proses yang kaya rasa dan dapat memberikan kesehatan alami pada tubuh kita.

Lalu apa Yang Harus Dimakan?

Makanan berbasis nabati yang dapat dikonsumsi dengan berlimpah

Padi-padian, polong-polongan, kacang-kacangan, biji-bijian, umbi-umbian, sayur mayur non hijau, sayur hijau .

Padi-Padian

yang termasuk dalam kelompok ini adalah beras coklat, beras merah, beras hitam, gandum utuh, oat. Ini adalah jenis padi-padian yang banyak ditemukan di nusantara kita. Masih ada jenis padi-padian lain yang agak sulit ditemukan di pasaran pangan Indonesia namun kamu masih bisa menemukan di beberapa supermarket seperti quinoa, millet/jawawut, jelai/jali/barley.

Sebenarnya jelai/jali/barley dan jawawut/millet adalah tanaman yang dulu masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia namun sayang mulai ditinggalkan dan kini kebanyakan masyarakat Indonesia hanya mengenal beras dan gandum.

Kalau kita tanya kepada orang tua kita atau kakek nenek kita tentang jali, mereka akan terkenang masa-masa dimana jali banyak digunakan bermain untuk kalung-kalungan.

Tahukah kamu kalau jelai/jali merupakan sumber serat terlarut yang sangat bagus sehinga dapat menurunkan kadar kolesterol darah serta mengandung bahan kimia penghambat kanker. Jelai/jali mengandung vitamin B1, B2 dan niasin, kalisum, potasium, fospor dan zat besi. Saat ini jali sedang coba dikembangkan kembali di kutai kartanegara.

Sementara tanaman jewawut dahulu pernah dibudidayakan di beberapa daerah di Indonesia seperti di Pulau Rote, Enrekang (Sulawesi Selatan), Pulau Sumba namun sayangnya jewawut memiliki nasib yang serupa dengan jelai/jali.

Ternyata jewawut memiliki kandungan nutrisi (protein dan kalsium) yang lebih baik ketimbang beras.

Kalau kamu penasaran, ingin mencoba jali ataupun jewawut kita sepertinya masih bisa menemukan banyak di pasar pakan ternak dan burung. Kalau dipikir-pikir hal ini sebenarnya tampak ironis, makanan yang justru mengandung banyak nutrisi dan lebih menyehatkan justru lebih banyak dikonsumsi oleh ternak.

Sayur Hijau

Yang termasuk dalam kelompok ini adalah semua tanaman yang berdaun hijau seperti bayam, kale, bok choi, arugula, kangkung, kelor, sawi putih, sawi manis, sawi hijau, slada, katuk dan masih banyak lagi.

Umbi-Umbian/akar-akaran

Semua jenis ubi (merah dan ungu), kentang, talas, singkong, bawang merah, bawang putih, bawang bombai, lobak putih, lobak merah, bit, wortel, dll.

Polong-Polongan (kering ataupun kalengan namun minimal garam)

Nah, kalau ini contohnya seperti kacang merah, kacang hitam, kacang hijau, kacang kedelai hitam, kacang kedelai merah/tolo, kacang kedelai putih, edamame, buncis, kacang panjang, kacang kapri, kacang polong, kacang tunggak, kacang bogor, kacang lima, lentil termasuk kelompok petai-petaian (petai, jengkol, petai cina dan masih banyak lagi).

Perlu dibedakan juga kacang almond, kacang kenari tidak termasuk dalam kelompok polong-polongan melainkan tergolong dalam kelompok kacang-kacangan. Karena kita sering menyebut kelompok polong dengan kacang, alhasil kita bingung sendiri. Untuk lebih mudahnya, bila dalam bahasa inggris disebut dengan istilah “bean” maka kacang ini termasuk kelompok polong, namun kalau disebut “nut” maka termasuk kelompok kacang. Penting untuk dibedakan karena konsumsi polong dalam sehari perlu lebih banyak sementara kacang sangat dibatasi.

Sayuran Non Daun Hijau

Brokoli, kembang kol, paprika, labu kuning, labu siam, terong, asparagus, tomat, jamur, cabai, dll.

Buah-Buahan

Pisang, apel, semangka, nanas, lemon, jeruk, salak, kecapi, pepaya, beri, mangga, rambutan, kiwi, kurma, dll.

Biji-Bijian

flax seed dan chia seed mengandung omega 3 yang baik untuk tubuh.

Photo by Delphine Hourlay on Pexels.com

Rempah-Rempah

Semua rempah-rempah.

Photo by Edoardo Colombo on Pexels.com

Minuman

Air putih, teh herbal, teh hijau, susu tanaman (susu almond, susu kedelai, susu oat, dll) tanpa pemanis, kopi decaffeine.

Vitamin B12

Satu-satunya nutrisi tambahan yang diperlukan pada gaya hidup vegan atau whole food plant based adalah cobalamin atau yang biasa dikenal sebagai vitamin B12.

Makanan Berbasis Nabati Mana yang Dikonsumsi Sesekali?

Kacang-kacangan

Kacang-kacangan adalah jenis makanan yang paling sering dikonsumsi berlebihan oleh orang yang baru memulai gaya hidup vegan atau whole food plant based karena praktis dan juga sangat gurih. Sayangnya konsumsi kelompok kacang-kacangan ini perlu dibatasi mengingat kandungan lemaknya yang lebih tinggi dibandingkan jenis tanaman lainnya. Meskipun kandungan lemaknya adalah lemak sehat namun tetap kebutuhan lemak kita juga tidak terlalu banyak. Beberapa contoh kacang-kacangan adalah kacang almond, kacang kenari, kacang mede.

Alpukat

Buah alpukat sebaiknya dikonsumsi sesekali karena mengandung lemak yang lebih tinggi dibandingkan jenis tanaman lainnya.

Kelapa

Santan, daging buah kelapa, parutan kelapa (kering maupun mentah).

Biji-bijian

Biji-bijian (kecuali yang mengandung omega 3) seperti wijen, biji semangka, biji bunga matahari.

Buah kering

kismis, cranberry kering, plum kering, dll.

Minuman

kopi, teh.

Pemanis tambahan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Sirup maple, sirup/sari kurma, molasses.

Produk kedelai utuh dengan proses pengolahan minimal

Tahu, tempe, miso.

Makanan Apa yang Tidak Dikonsumsi atau Dihindari?

Photo by Darius Krause on Pexels.com

Makanan yang tidak dikonsumsi pada gaya hidup whole food plant based atau dihindari sudah tentu yang berbasis hewani namun ada beberapa yang berbasis nabati dikarenakan dampaknya terhadap kesehatan yang kurang baik.

Makanan berbasis hewani

Makanan berbasis hewani yang tidak dikonsumsi adalah daging, unggas, ikan dan hewan laut lainnya (udang, kepiting, cumi-cumi, dll), produk daging olahan (sosis, nugget).produk susu (susu, keju, yogurth), telur.

Produk tanaman yang tinggi proses pengolahannya (biasa digunakan pada gaya hidup vegan)

Lemak tambahan

Seperti minyak tanaman (minyak zaitun, kanola, minyak kelapa, dll), margarine.

Gula olahan

Gula putih, gula bit, sirup beras coklat, gula merah, sirup jagung, manisan gula, fructosa, gula tebu.

Protein Isolates

Soy protein isolate, pea protein isolate, seitan.

Olahan padi-padian

Tepung putih, nasi putih, oat instan.

Minuman

Soda, jus buah (bahkan yang 100% murni kandungan buahnya), minuman berenergi, minuman olahraga.

Bila anda ingin tahu lebih lanjut alasan mengapa ada beberapa makanan pada gaya hidup whole food plant based tidak dikonsumsi atau dihindari, silakan tunggu tulisan saya selanjutnya.


Nutrisi dan Fenomena Kesehatan yang Terjadi di Indonesia


Menurut WHO (World Health Organization), nutrisi adalah asupan makanan, yang dikaitkan dengan kebutuhan diet tubuh.

Nutrisi yang baik adalah nutrisi yg mencukupi kebutuhan tubuh dan juga seimbang. Nutrisi yang buruk dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit, menurunnya produktivitas dan mengganggu perkebangan fisik dan mental.

Bila kita lihat hasil riskesdas (riset kesehatan dasar) 2018 terjadi penurunan penyakit menular; hal ini dapat menunjukan tingkat hygiene dan penatalaksanaan penyakit infeksius Indonesia membaik namun disatu sisi prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, kanker, jantung, stroke, gangguan mental dan emosional, berat badan berlebih serta obesitas mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2013.

Pergeseran pola makan masyarakat Indonesia sepertinya punya peran besar dalam pergeseran pola penyakit ini, dimana masyarakat Indonesia yang tadinya lebih banyak mengkonsumsi serat kini beralih ke makanan cepat saji/instan, yang rendah serat dan tinggi kalori.

3YW3D

Terbukti dari data riskesdas 2018, angka masyarakat Indonesia yang kurang makan sayur dan buah (kurang dari 5 porsi/hari) kini menjadi 95,5% dibandingkan tahun 2013 93,5%. Bahkan di propinsi Kalimantan Selatan, penduduk yang kurang makan sayur dan buah di tahun 2018 mencapai 98,2%. Hal ini merupakan hal yang sangat ironis mengingat Indonesia termasuk negara agraris.

Kelompok penyakit tidak menular ini bisa kita kategorikan ke dalam kelompok penyakit gangguan nutrisi dalam hal ini kelebihan nutrisi (khusunya kalori dan rendahnya serat). Tak heran kini pemerintah Indonesia menggencarkan program GERMAS (Gerakan Masyarakat Sehat) yang salah satunya adalah mengajak masyarakat untuk lebih banyak makan sayur dan buah.

Bagaimana penyakit tidak menular tersebut bisa terjadi? Kenapa dikaitkan dengan nutrisi? Bukankah banyak orang yang bilang kalau penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi disebabkan oleh faktor keturunan?Kenapa makan sayur dan buah penting?

Saya akan bahas pada tulisan saya berikutnya mengenai alasan pentingnya bagi tubuh kita mengkonsumsi sayur dan buah dalam menjaga tubuh kita agar selalu dalam kondisi optimal; Harapan saya, dengan memiliki dasar dan alasan yang kuat; Anda dan keluarga anda akan lebih termotivasi mengkonsumsi sayur dan buah.